Karena Lalat… Ia Masuk Surga

Foto: voa-islam.com

 

Oleh: Hari Setiawan *

 

Dikisahkan oleh Imam Nawawi Al Bantani dalam kitabnya, Nashaihul ‘Ibad, seseorang berjumpa Imam Al Ghazali sepeninggalnya.

Di dalam mimpinya, orang tersebut bertanya kepada sang imam, “Bagaimana Allah swt memperlakukanmu, Wahai Imam?”

Imam Al Ghazali menjawab, dirinya ditanya Allah swt bekal apa yang bisa diserahkan kepada-Nya. Sang Imam menjawab berbagai amalannya, mulai dari shalat, puasa, sedekah, ilmu, dan sebagainya.

Semua amalan Al Ghazali yang cemerlang itu belum juga membuat Allah swt ridha, kecuali satu kebaikan sang Imam kepada seekor lalat. Saat itu, Imam Al Ghazali tengah menulis kitab. Seperti di zamannya, kitab ditulis menggunakan sebatang pena dan semangkuk kecil tinta.

Di tengah aktivitas menulisnya itu, tiba-tiba datang seekor lalat yang hinggap di pinggir mangkuk tinta sang Imam. Rupanya si lalat haus. Lalat tersebut tampak tengah minum cairan tinta tersebut.

Melihat hal itu, Imam Al Ghazali menghentikan sejenak menulisnya demi memberi kesempatan kepada si lalat untuk menghapus dahaganya. “Masuklah ke dalam surga bersama hamba-Ku yang telah Kuridhai,” kata Allah swt kepada sang Imam.

Kisah ulama ‘alim nan shalih ini memberi pelajaran besar kepada kita bahwa jangan pernah meremehkan kebaikan, walau kecil dan sederhana wujudnya. Sebab, kita tidak pernah tahu amal apa yang membuat Allah swt ridha memasukkan kita ke surga-Nya.

Jangan pernah puas dengan ibadah dan amal yang sudah kita lakoni, apalagi mudah dilihat orang. Niat yang awalnya ikhlas, bisa belok di tengah jalan karena banyak orang yang menonton amal kita. Apalagi, dengan sengaja kita “mempublikasikan” amal kita dengan dalih “memotivasi” orang lain.

Agama kita memang memberi ruang untuk menampakkan amal, termasuk sedekah. Dengan tujuan agar orang lain tergerak untuk mengikuti jejak kebaikan kita. Tetapi, jangan lupa bahwa setan paling canggih tipu dayanya untuk memelesetkan niat yang semula lurus menjadi bengkok.

Tidak heran, sebagai wujud kehati-hatian dalam menjaga niat, para ulama ‘alim nan shalih cenderung menyembunyikan amalnya. Padahal, mereka pasti lebih ‘alim dan shalih dari kita, ibadahnya lebih khusyuk dari kita.

Imam Muslim meriwayatkan sabda Baginda Nabi Muhammad saw dari Sa’ad bin Abi Waqqash,

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.”

Mengasingkan diri di sini maksudnya menyembunyikan amalnya.

Artikel ini akan saya tutup dengan beberapa ungkapan para ulama ‘alim dan shalih, semoga Anda bisa memetik hikmah terbaiknya.

Ibnul Mubarok mengatakan, “Jadilah orang yang suka mengasingkan diri (sehingga amalan mudah tersembunyi), dan janganlah suka dengan popularitas.”

Az Zubair bin Al ‘Awwam mengatakan, “Barangsiapa yang mampu menyembunyikan amalan shalihnya, maka lakukanlah.”

Ibrahim An Nakho’i mengatakan, “Kami tidak suka menampakkan amalan shalih yang seharusnya disembunyikan.”

Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa Abu Hazim berkata, “Sembunyikanlah amalan kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan amalan kejelekanmu.”

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Sebaik-baik ilmu dan amal adalah sesuatu yang tidak ditampakkan di hadapan manusia.”

Basyr Al Hafiy mengatakan, “Tidak selayaknya orang-orang semisal kita menampakkan amalan shalih walaupun hanya sebesar dzarroh (semut kecil). Bagaimana lagi dengan amalan yang mudah terserang penyakit riya’?

Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sudah sepatutnya bagi seorang alim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak.” (*)

 

* Penulis adalah Direktur Majlis Dhuha

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *